Thursday, July 19, 2007

Perang Lawan Terorisme Membuat AS Makin Tidak Aman

Kamis, 19 Jul 07 17:40 WIB

National Intelligence Estimate (NIE)-lembaga di AS yang memiliki otoritas untuk melakukan penilaian tentang isu-isu keamanan- dalam laporan terbarunya menyatakan bahwa AS tetap tidak aman, meski sudah enam tahun melancarkan perang terhadap terorisme, menghabiskan dana milyaran dollar dan menginvasi dua negara, Irak dan Afghanistan.

Dalam laporan itu, NIE menyimpulkan bahwa saat ini AS justru dalam situasi menghadapi ancaman yang makin kuat dan sejak peristiwa 11 September, al-Qaidah tetap menjadi ancaman serius bagi AS.

"Kami menilai AS masih akan menghadapi ancaman teroris dalam tiga tahun ke depan, apalagi para pemimpin al-Qaidah masih terus melontarkan ancaman ke AS, " demikian bagian isi laporan tersebut.


Laporan hasil penilaian itu sudah disepakati oleh 16 lembaga komunitas intelejen di AS dan hanya dua halaman dari laporan penilaian itu yang diumumkan ke publik, selebihnya tetap dirahasiakan. Isi laporan ini, tidak jauh berbeda dengan laporan National Counter Terrorism yang juga bocor pekan kemarin. Isinya menyebutkan bahwa ancaman terbesar bagi AS masih dari al-Qaidah.

Kedua laporan tersebut sangat kontras dengan pernyataan Presiden George W. Bush yang selalu mengatakan bahwa AS sudah berhasil menangkap dan membunuh 2/3 dari anggota dan pimpinan al-Qaidah.

Menurut NIE, al-Qaidah saat ini bersembunyi di kawasan pedalaman negara Pakistan. Para pemimpinnya masih bisa saling berkomunikasi, mengorganisir, bahkan melakukan pelatihan terhadap para anggotanya.

Lebih lanjut NIE menyatakan, bahwa invasi AS ke Irak malah memicu ancaman terorisme. Perang AS di Irak, menurut NIE, malah memunculkan generasi baru yang lebih berpengalaman dalam melakukan operasi yang mematikan, mendorong rekruitmen dan penggalangan dana untuk kelompok-kelompok yang oleh AS di sebut "teroris. "

Tentang hal ini, senator dari Partai Demokrat Barack Obama pernah mengatakan, "Itu adalah konsekuensi dari perang yang salah arah di Irak dan seharusnya perang itu tidak pernah disetujui. "

Obama menyatakan, sudah saatnya AS mengoreksi kesalahan itu, dan langkah pertamanya adalah keluar dari Irak, karena AS tidak akan menang dalam medan pertempuran di Negeri 1001 Malam itu. (ln/iol)

No comments: